Candi Sumberawan, Taman Surga Tersembunyi Di Lereng Gunung Arjuna

Ayo Dolen Rek Ke Candi Sumberawan, Toyomarto, Singosari, Malang – Candi Sumberawan adalah satu tempat tersembunyi di lereng Gunung Arjuna yang menawarkan objek sejarah berupa stupa di tengah taman dan dikelilingi alam yang indah. Fungsinya sebagai penjaga air suci atau “tirta amerta” membuat candi di dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Singosari ini semakin unik dan menarik untuk dikunjungi.

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Candi Sumberawan, Taman Surga Tersembunyi Di Lereng Gunung Arjuna

Keunikan Candi Sumberawan terletak pada bentuk dan fungsinya. Pada umumnya, candi merupakan bangunan dengan desain yang kompleks dan berfungsi sebagai tempat perabuan atau pendarmaan seorang raja. Namun, Candi Sumberawan  berbentuk stupa seperti yang terdapat pada puncak Candi Borobudur dan tidak berfungsi sebagai tempat penyimpanan atau tempat pendarmaan.

Karena Candi Sumberawan Singosari bercorak Budha, maka sering digunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Budha terutama pada perayaan hari-hari besarnya seperti Hari Raya Waisak. Namun, masyarakat yang beragama lain juga menggunakannya sebagai tempat ritual terutama berkaitan dengan penyucian diri yang erat kaitannya dengan air.

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Candi Sumberawan, Singosari, Malang, Jawa Timur

Pada perayaan Hari Raya Waisak tahun ini yang jatuh pada tanggal 19 Mei 2019, Dwi Cahyono, Arkeolog Universitas Negeri Malang bersama komunitas pemeluk agama Budha akan menggelar acara seni budaya sekaligus ngabuburit dengan tajuk “Sendyakalaning Kasuranggan.”

Satu acara dalam rangka menjalin toleransi beragama dengan agenda bincang budaya, penampilan seni tari di areal Candi Sumberawan Singosari dan buka bersama.

Daya tarik lainnya dari Candi Sumberawan Malang, Jawa Timur ini adalah keberadaan mata air yang dianggap sebagai air suci atau tirta amerta, keindahan alamnya dan misteri serta mitos-mitos berkaitan dengan penyembuhan, derajat dan pangkat serta proses pencarian jati diri.

Baca Juga :

Candi Sumberawan, Toyomarto, Singosari, Malang

Arsitektur Candi Sumberawan

Meskipun berbentuk stupa, namun peninggalan bersejarah yang pertama kali ditemukan oleh orang Belanda pada tahun 1845 ini lebih dikenal dengan nama Candi Sumberawan. Kemudian, pada tahun 1935, para peneliti dan dinas purbakala melakukan kunjungan pertama yang dilanjutkan dua tahun kemudian dengan pemugaran pada bagian kaki candi.

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Arsitektur Candi Sumberawan Singosari

Tidak seperti candi-candi lain di Jawa Timur seperti Candi Jago, Candi Kidal dan Candi Singosari, yang memiliki tangga naik ruangan untuk menyimpan benda suci. Candi Sumberawan berbentuk sederhana saja yaitu berupa stupa.

Para ahli memperkirakan bangunan candi Sumberawan ini didirikan sekitar abad 14 hingga 15 masehi atau lebih tepatnya, pada jaman kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada pada bentuk batur dan stupanya.  Seperti halnya Borobudur, Candi Sumberawan merupakan tempat peribadatan bagi umat Budha.

Stupa Sumberawan

Stupa adalah lambang dari agama Buddha yang berbentuk mangkuk terbalik, dengan bentuk persegi empat atau segi delapan (harmika), serta bentuk tongkat di atasnya. Terdapat persamaan antara stupa Sumberawan dengan stupa puncak Candi Borobudur yang juga berbentuk seperti mangkuk terbalik atau genta atau lonceng.

Timbul pertanyaan, apa yang terdapat di dalam Stupa Sumberawan?

Tentang isi stupa ini, menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Dimana, ada yang berpendapat bahwa rongga tersebut dahulunya merupakan ruangan untuk tempat menyimpan arca atau relik (peninggalan-peninggalan yang dianggap suci seperti benda-benda, pakaian, tulang belulang Sang Buddha, arhat dari bhiksu terkemuka). 

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Stupa Sumberawan Malang, Jatim

Sebagian lagi berpendapat bahwa rongga dalam stupa ini memang kosong, mengingat bahwa stupa pada tingkat arupadhatu seperti stupa pada puncak Candi Borobudur, menyimbolkan unsur tak berwujud.

Pada umumnya, di  puncak stupa, terdapat chattra yang merupakan payung bersusun tiga. Secara filosofi keagamaan memang ada bentuk seperti ini,misalnya di Bodh Gaya. 

Di bawah bentuk chattra terdapat susunan batu berbentuk tongkat yang dinamakan yasti. Di bawah yasti terdapat harmika. Harmika adalah bagian antara badan dan puncak stupa. Harmika pada Candi induk mempunyai dua bentuk, yaitu persegi empat dan persegi delapan. 

Kisah Tentang Bentuk Stupa Sumberawan

Dari sisi arsitektur dan bentuk stupa, ada sebuah cerita yang menguraikan tentang awal mula terbentuknya stupa Sumberawan. Dari tempat kejadian dan para pelakunya yang berada jauh dari pulau Jawa yaitu di negeri India, diperkirakan kisah ini merupakan hasil pengalaman spiritual.

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Kisah Bentuk Stupa Sumberawan

Sang Budha Gautama memiliki dua orang penganut pertama agama Budha di pulau Jawa.  Kepada kedua pengikutnya itu, Sang Budha memberikan sebuah kenang-kenangan atau tanda mata berupa kuku dan rambutnya.

Lalu, keduanya disuruh untuk menyimpannya dalam sebuah stupa. Karena belum mengetahui bagaimana bentuk stupanya, maka Sang Budha membuka pakainya lalu dilipat segi empar dan diletakkan di atas tanah. Pakaian itu digunakan sebagai alas, lalu ditaruhnya sebuah mangkuk terbalik kemudian diatasnya didirikan tongkatnya.

Itulah, bentuk dan arsitektur stupa untuk menyimpan tanda mata Sang Budha. Saat ini, hanya ada dua bentuk stupa yang ada di Indonesia yaitu Candi Borobudur dan Candi Sumberawan. Mungkinkah kedua pengikut Sang Budha Gautama itu yang mendirikannya?

Maka, gambaran ideal dari bentuk stupa Sumberawan adalah berbentuk kubah yang berdiri diatas sebuah lapik segi empat dan diatasnya diberi payung  sebagai tanda kehormatan  atau lambang kahyangan. Payung itu kadang terbuka dan kadang tertutup. 

Sejarah Candi Sumberawan

Stupa Sumberawan atau Candi Sumberawan diperkirakan dibangun pada masa kerajaan Majapahit, tepatnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.  Proses pembangunannya dilakukan setelah Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke Lumajang. Seperti yang tersebut dalam kitab Negarakretagama pupuh XVIII.

Dalam kitab Negarakretagama, dikisahkan jika raja Hayam Wuruk mengunjungi tiga mata air yang dianggap suci, untuk membersihkan dirinya. Mata air tersebut  adalah Kasuranggan atau Sumberawan, Sumber Biru atau Kedung Biru dan Bureng atau Wendit. Dimana jejak perjalanan itu bisa dijumpai di Sumber Biru atau Kdung Biru, lewat kolam yang berlantai batu bata berukuran besar khas Majapahit. 

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan

Pada masa itu, Sumberawan merupakan  taman bunga yang indah dikelilingi dengan air yang mengalir langsung dari sumbernya. Melihat keindahan Taman Kasuranggan ini membuat Raja Hayam Wuruk memutuskan untuk membangun stupa,  pada tahun 1359 dan menjadikan Sumberawan sebagai tempat peristirahatan dan peribadatan. 

Pemilihan bangunan stupa karena pada saat itu di Singosari dan sekitarnya bermukim pendeta-pendeta Siwa-Budha. Dan. tanah Sumberawan dianugerahkan raja kepada para pendeta. Karena ‘pemilik hak’ atas tanah di Telaga Sumberawan adalah para pendeta Siwa-Budha, maka yang didirikan di tempat itu adalah candi Budha berbentuk stupa dengan ukuran bagian dasarnya 6,25m x 6,25m dan tinggi 5,23m.

Puncak Stupa Sumberawan tidak utuh. Menilik batu-batu reruntuhan stupa yang masih cukup banyak, diperkirakan stupa Sumberawan memiliki ‘selimut luar’ yang melingkupi kubahnya, dan tingginya masih sekitar 2-3 meter lagi. 

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan
Reruntuhan Puncak Stupa Sumberawan

Reruntuhan puncak stupa itu menjadi ‘altar’ karena merupakan bagian paling suci, diletakkan di sebelah utara candi. Mereka yang berdoa meletakkan dupa, bunga, dan persembahan lainnya di reruntuhan batu puncak sekaligus menghadap candi. 

Pada masa Majapahit sudah memelihara toleransi antar umat beragama, dimana agama Hindu dan Budha dapat hidup berdampingan. Dengan adanya stupa ini, Sumberawan menjadi tempat ibadah pemeluk agama Budha, kemudian Kasuranggan atau Sumberawan ini dikenal dengan nama Candi Sumberawan.

Setelah masa kerajaan Majapahit berlalu, Candi Sumberawan ditemukan tahun 1904 oleh orang Belanda lalu diadakan pemugaran pada bagian kaki candi tahun 1937 oleh pemerintah Hindia Belanda. Candi ini direnovasi tahun 1925-1938 (Wurianto 2009).

Saat ini, mata air yang melimpah sejak era Singosari dan berlanjut di era Majapahit hingga kini masih memancar. Dimana, terdapat 26 pipa milik PDAM Kabupaten Malang yang menjual air Sumberawan kepada warga desa Toyomarto, Singosari.

Fungsi Candi Sumberawan Singosari

Fungsi Candi Sumberawan Malang ini selain digunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Budha juga menjadi salah satu objek wisata sejarah unggulan kecamatan Singosari. Selain itu, Stupa Sumberawan dengan misteri dan mitos-mitosnya juga merupakan simbol penjaga kelestarian mata airnya.

Foto-foto Candi Sumberawan dan Taman Surga

Foto-foto atau gambar-gambar berikut ini menunjukkan Candi Sumberawan, taman surga dan alam sekitarnya sebagai objek wisata alam, sejarah dan spiritual.

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan


candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan

candi sumberawan; candi sumberawan singosari; candi sumberawan bercorak; candi sumberawan malang jawa timur; candi sumberawan malang jawa timur 65153; candi sumberawan jatim; gambar candi sumberawan; mitos candi sumberawan; misteri candi sumberawan; fungsi candi sumberawan


Penutup

Sahabat dolenners, itulah ulasan tentang Candi Sumberawan yang berada di dusun Sumberawan, desa Toyomarto, kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Keindahan alam dan tamannya membuat Candi Sumberawan Malang ini dijuluki sebagai Kasuranggan atau Taman Surga yang tersembunyi di lereng gunung Arjuna.

Nah, tunggu apalagi? Ayo Dolen Rek...

Pengalaman Unik, Menarik dan Mistis di Situs Karuman

Ayo Dolen Rek Ke Situs Karuman – Banyak cerita-cerita unik dan menarik serta berbau mistis seputar Situs Karuman ini. Namun, cerita-cerita ini akan lebih menarik jika dituturkan langsung oleh pelakunya atau justru kita sendiri yang mengalaminya.

Seperti cerita unik, menarik dan berbau mistis berikut ini yang dituturkan oleh Elang Karuman, pengelolah situs ini dan pengalaman penulis sendiri saat mandi ditempat ini.

Pengalaman Mistis Pengelolah Situs Karuman

Awalnya, petirtaan Ken Arok ini tidak terurus dan terbengkalai. Adalah Elang bersama keluarganya yang masih keturunan langsung dari sesepuh desa, berinisiatif untuk mengubahnya dengan menjadikan tempat ini sebagai satu objek wisata.

Kemudian dibangunlah tempat ini dan dibuat semenarik mungkin sesuai dengan selera anak muda karena jangkauan pasarnya adalah generasi muda. Dibuatlah lukisan-lukisan mural di sepanjang dinding memasuki area ini. Lalu dibuat saung-saung bambu dengan desain unik dan menarik sebagai tempat nongkrong dan bercengkerama.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo; sungai brantas; mbah aruman
Penampilan baru Situs Karuman, Dinoyo, Malang

Goa Ken Arok dirapikan dan ditata sehingga terlihat bersih dan menarik, begitu pula dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga jadilah tempat ini sebagai satu objek wisata yang menarik. Dan, Elang pun berniat membuka dan mengenalkan tempat ini kepada masyarakat umum.

Namun, saat hari pembukaan, justru Elang menemukan mayat seseorang yang terapung di pinggir sungai Brantas. Elang pun mengangkatnya dari sungai lalu melaporkan kejadian itu pada Polisi. Kedatangan Polisi ke tempat ini mengundang kedatangan warga lain dari berbagai daerah untuk melihat sosok mayat tersebut.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo; sungai brantas; mbah aruman
Sungai Brantas, Dinoyo, Malang

Ternyata sosok mayat tersebut adalah seorang pria berumur 65 tahunan warga Pakisaji, Malang. Entah apa penyebab kematiannya, namun mayat itu terapung di lokasi yang dekat dengan Situs Aruman ini. Dan, Elang adalah orang yang pertama kali melihatnya.

Alih-alih melihat identitas mayat, para warga yang datang justru menikmati suasana baru ditempat ini dengan memesan minuman, duduk di saung-saung bambu dan berfoto di dinding dengan lukisan mural atau berfoto dengan latar jembatan.

Sehingga banyak warga mulai mengenal tempat ini lalu mereka ceritakan lagi kepada sanak kerabat meraka. Dan, Situs Karuman menjadi ramai dikunjungi orang. Boleh dikatakan, jika Elang mendapatkan promosi gratis dengan adanya penemuan mayat tersebut.

Satu peristiwa yang unik dan jarang terjadi.

Keusilan Penghuni Gaib Situs Karuman

Saat berkunjung ke Situs Karuman ini, Penulis bersama seorang teman dan datang pada siang hari. Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang tempat ini bersama Elang, tepat pukul 12.00 WIB, penulis minta ijin untuk mandi di sumber air.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo; sungai brantas; mbah aruman
Tempat Mandi di Situs Karuman, Dinoyo, Malang

Karena sudah terbiasa mandi di tempat-tempat seperti ini, Penulis pun tidak merasa canggung lagi. Namun, karena tempat mandi disini dalam kondisi tertutup, maka Penulis pun mandi dengan telanjang badan. Satu hal yang tidak pernah dilakukan saat mandi di tempat terbuka.

Nah, pada saat melepaskan celana dalam inilah, penulis bingung mau menaruhnya dimana sementara kepala sudah terlanjur basah. Sehingga penulis meletakkannya saja di dinding di atas pancuran lalu membasahi seluruh badan dengan air yang memancar deras ini.

Rasanya sungguh segar. Mandi dengan air yang memancar langsung dari sumbernya. Jauh berbeda dengan air di rumah yang harus melalui pipa-pipa PDAM terlebih dahulu.

Seusai mandi, penulis kebingungan mencari celana dalam yang diletakkan di atas dinding pancuran air. Padahal selama mandi, penulis masih sempat melihatnya dengan jelas karena berada tepat di depannya. Namun anehnya, setelah mandi, celana dalam yang ada di hadapan itu seolah hilang tanpa bekas.

Dalam keadaan masih telanjang bulat, penulis mencoba mencari celana dalam tersebut ke setiap sudut kamar mandi ini. Takutnya, terjatuh lalu terbawa air dan masuk ke dalam selokan. Namun, setelah mencari ke setiap sudut tempat mandi ini, pakaian penutup alat rahasia ini tidak juga ketemu.  

Dalam kondisi kebingungan, penulis berucap dalam hati. “Mbah… Mosok putune sek tas rene  wes digoda.. Balekno Mbah kampesku..

Setelah berucap seperti itu, tiba-tiba penulis melihat celana dalam itu kembali berada ditempatnya semula yaitu diatas dinding pancuran air. Bergegas, penulis mengambil lalu memakainya kemudian mengenakan seluruh pakaian lengkap dan kembali ngobrol di saung bambu.

Mbah… Mbah.. Usil benar..” Batin Penulis sambil melangkah keluar.

Kejadian ini berlangsung pada siang hari bolong. Dan mungkin, akan berbeda bentuk gangguan dan godaan dari para penghuni gaib tempat ini pada malam hari.

Sejenak, Penulis membayangkan bagaimana kenakalan dan keusilan dari sosok Joko Lola pada masa lalu sehingga sekarang, pada jaman yang jauh berbeda pun masih nakal dan suka usil. Dan, jika bukan beliau sendiri, maka para penghuni disini mungkin saja mengikuti jejaknya. 

Hahaha … Bercanda Mbah..

Akhir Kata

Kejadian-kejadian diatas menunjukkan bahwa setiap tempat memang memiliki penghuni gaib, ada yang baik dan ada pula yang suka iseng serta nakal seperti yang ada di Situs Karuman ini. Sehingga sebelum melakukan sesuatu ditempat ini sebaiknya berdoa terlebih dahulu memohon perlindungan Tuhan YME dan menyapa para penghuni gaibnya.

Bagi Anda yang berjiwa petualang, kejadian tersebut bukanlah hal yang harus ditakuti, tapi justru menjadi satu tantangan untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita terhadap Tuhan YME.

Nah, tunggu apalagi? Mari uji nyali dengan berkunjung ke  Situs Karuman..

Objek Wisata Sejarah Lainnya :

Tonton video penelusuran Jejak Ken Arok dan Ken Dedes :

1.       Bedah Pararaton Edisi I : https://www.youtube.com/watch?v=XwVP2foQObk&t=72s

2.       Bedah Pararaton Ketiga : Ken Arok Anak Janda Dari Jiput : https://www.youtube.com/watch?v=K4guXSPHYs4&t=89s

3.       Timur Gunung Kawi dan Ken Arok : https://www.youtube.com/watch?v=f8r4ZW4OOas

4.       Kali Metro Sungai Suci Dari Gunung Panderman : https://youtu.be/YUG2AxhlwpM

5.       Pergolakan politik era Ken Arok : https://youtu.be/XGL-u0dHfKs

6.       Menguak Misteri Orangtua Kandung Ken Arok : https://youtu.be/nROeiJ-ygl0

7.       8 Jejak Peninggalan Sejarah Ken Dedes di Kota Malang : https://youtu.be/6tTyPb0lg7E

8.       Makam Tunggul Ametung di Hamparan Kebun Teh Wonosari : https://youtu.be/J4s6-iCva2c

9.       Bumi Perkemahan Bedengan Dau Malang : https://youtu.be/WOFW5zRQkck

10.   Misteri Keris Mpu Gandring Bag I : https://youtu.be/eWAs__IVCCs

11.   Menguak Rahasia Dada Terbuka Patung Ken Dedes : https://youtu.be/jqlkdr9j5dE

12.   5 Objek Wisata Batu Purbakala Desa Toyomarto : https://youtu.be/QX3D7hroZoQ

13.   Ken Dedes dan Joko Lola : https://youtu.be/CfBWk6jxUfA

14.   Menelusuri Riwayat dan Asal usul Mpu Gandring : https://youtu.be/ebr77ELZgh4

15.   Menelusuri Jejak Tunggul Ametung di Petilasan Urung urung : https://youtu.be/a3rPKosViEY

16.   Satru Danyang : https://youtu.be/4D9NfGRgTAM



Menyusuri Jejak Joko Lola Di Situs Karuman

Situs Karuman Dinoyo, Malang - Setelah mengunjungi Situs Ken dedes di Polowijen, menuruti rasa penasaran tentang sosok tokoh pemuda dari dinoyo dalam dongeng warga Polowijen, Penulis melanjutkan perjalanan menyusuri jejak Joko Lola di Situs Karuman yang berada di ujung jalan Tlogomas gang VIII, Dinoyo, Malang. Sebuah gang kecil tepat berada di sebelah Rumah Makan Soto Lamongan. 

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Situs Karuman Tlogomas, Dinoyo, Malang

Tlogomas Gang VIII ini merupakan sebuah perkampungan yang padat penduduk dengan jalanan hanya dapat dilewati menggunakan sepeda motor atau berjalan kaki. Jika menggunakan sepeda motor, kita dapat lebih leluasa menjelajah tempat ini hingga mencapai petirtaan yang berada di ujung jalan. Karena, jika berjalan kaki kita harus meniti tangga yang cukup banyak dan cukup menguras tenaga .

Situs Karuman Tlogomas Gg. VIII, Dinoyo, Malang

Situs Karuman atau lebih dikenal dengan nama Punden Karuman ini memiliki tiga titik lokasi yang terpisah di antara padatnya rumah warga. Lokasi pertama berada di pinggir jalan, lokasi kedua berada di belakang sekolah TK dan  lokasi terakhir berada dekat dengan sungai Brantas. 

Lokasi pertama adalah sebuah komplek pemakaman yang dikelilingi pagar dan di depan pintunya terdapat patung seekor harimau hitam.  Dalam kompleks pemakaman ini terdapat deretan makam yang dinaungi pohon kamboja berumur puluhan atau ratusan tahun.

Di tempat ini terpasang sebuah papan informasi atas nama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang yang menjelaskan jika Situs Karuman, merupakan sebuah situs purbakala penting dan bernilai sejarah tinggi.

Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Dwi Cahyono, Arkeolog Universitas Negeri Malang, yang mengatakan jika situs Karuman ini menjadi penegas bahwa kawasan ini merupakan desa kuno yang sudah ada sejak masa Kerajaan Kanjuruhan di abad VIII. Kawasan ini juga tempat bersejarah yang keberadaannya dicatat dalam Kitab Pararaton.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Makam Mbah Aruman
Lokasi kedua adalah sebuah makam yang berada di belakang sebuah sekolah TK yaitu makam Mbah Aruman. Makam itu tertutup dalam ruangan yang terkunci dan hanya dapat dibuka atas seijin juru kuncinya saja. Di samping makam ini terdapat sebuah taman kecil yang berisi arca Durga dan arca Siwa yang sudah hilang bagian kepalanya. Ada pula batu sima, batu sebagai penanda penetapan status desa bebas pajak. 

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo


Selain itu juga terdapat arca Lembu Nandi yang sudah pecah bagian kepalanya, yoni dan lingga berbeda ukuran. Ada pula beberapa balok batu dan bata kuno.

Lokasi ketiga berada di ujung jalan Tlogomas VIII yang berbatasan dengan sungai Brantas. Jalanan menuju tempat ini cukup baik dengan dinding pembatas pada sisi kanannya berisi beragam lukisan mural. Dan, terdapat gubuk-gubuk bambu  sebagai tempat ngobrol sambil menikmati kopi atau minuman hangat lainnya yang dijual disini.



Penjualnya adalah pengelolah tempat ini bernama Elang Karuman, seorang pemuda yang banyak mengenal budaya dan sejarah khususnya sejarah Situs Karuman ini.`Ditempat ini, terdapat sebuah goa dan sumber air yang jernih dan mengeluarkan debit air sangat besar. 

Air dari sumber ini dialirkan ke pemandian kuno yang sudah dibangun menyerupai pemandian umum dan dipisahkan untuk pria dan wanita. Dahulu, si sekitar patirtan ini ada beberapa jaladwara berbahan batu andesit yang berfungsi sebagai pancuran. 

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Elang Aruman (kiri) Pengelolah Situs Karuman

Namun, jaladwara maupun patirtan itu sudah lenyap tak tersisa. Hanya aliran air dari arung yang masih bisa dijumpai. Sebagian air dari mata air Karuman ini juga dialirkan ke sebuah kolam pemandian wisata yang berada di samping situs ini dalam jumlah besar.

Diatas tempat pemandian ini terdapat sebuah goa yang konon dahulu dibuat oleh Ken Arok.  Menurut penuturan Elang, dalam jarak 10 m, goa tersebut sudah tertutup reruntuhan tanah diatasnya. Sehingga goa itu ditutup. Diatas pintu goa terdapat dua patung kecil yaitu Lembu Nandi dan Syiwa serta dua gada berwarna hitam dan kuning.  Disamping goa ini berdiri sebuah pohon besar yang diselimuti sarung berwarna kuning dan dibawahnya terdapat alat-alat sesaji.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Goa Ken Arok atau Joko Lola

Salah satu ciri khas tempat yang pernah disinggahi Ken Arok adalah tempat yang memiliki goa baik goa yang dibuatnya sendiri maupun goa peninggalan kerajaan sebelumnya. Seperti goa yang ditemukan di Polowijen, Goa Polaman dan goa-goa lainnya termasuk di Karuman ini.

Joko Lola dan Dukuh Karuman

Nama Karuman disebut beberapa kali dalam Kitab Pararaton, sebuah kitab yang mengisahkan perjalanan hidup Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singasari. Dan, Karuman pernah menjadi tempat tinggal Ken Arok semasa kecil hingga tumbuh remaja saat tinggal bersama ayah angkatnya yang kedua, yakni Bango Samparan.

"Pergilah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya menjumpai seorang anak. Dicocokkannya anak itu dengan petunjuk Hyang, sungguhlah itu Ken Angrok. Dibawa pulang ke Karuman, diakui anak oleh Bango Samparan," demikian bunyi kutipan Kitab Pararaton.
Usia Ken Arok saat itu sebaya dengan anak gembala. Ia ikut Bango Samparan hingga tumbuh remaja. Arok meninggalkan rumah, saat mulai tak cocok dengan anakanak ayah angkatnya. Ia Pergi berkelana kemana saja, dan menjadi berandalan yang diburu oleh penguasa Tumapel maupun Daha.

Kitab Pararaton juga menuliskan, di sela masa pengabdiannya pada Tumapel, Ken Arok kembali pulang ke Karuman. Meminta pertimbangan Bango Samparan saat hendak menggulingkan Tunggul Ametung dari kekuasaannya sekaligus memperistri Ken Dedes. Melalui ayah angkatnya itu pula, Ken Arok tahu tentang Mpu Gandring dan memesan senjata untuk mengkudeta Tunggul Ametung.

Sehingga kuat dugaan, jika Joko Lola yang terdapat dalam dongeng lisan warga Polowijen yang mau meminang Ken Dedes adalah Ken Arok. Meskipun dalam dongeng itu disebut daerah Dinoyo. Karena Karuman sendiri berada dalam wilayah Dinoyo.

Dukuh Karuman Saat Ini

Temuan artefak dan gambaran paleo-ekologi di kawasan ini menguatkan bahwa di sinilah Karuman sebagaimana yang ditulis Pararaton,” kata Dwi Cahyono.

Sekarang, Karuman menjadi Kampung Tlogomas dimana dahulu merupakan desa kuno sejak masa Hindu-Buddha abad VIII hingga era Kesultanan Mataram Islam abad XVII. Maka, di kampung ini selain ada situs Karuman juga ada Makam Mbah Aruman, seorang penyebar Islam dari Mataram.

Situs Karuman itu sendiri bukan punden biasa. Sebenarnya situs itu adalah sebuah candi yang dibangun atas perintah Ken Arok di awal berdirinya Kerajaan Singasari. Sebagai balas budi terhadap Bango Samparan, sekaligus menetapkan statusnya sebagai desa sima atau desa bebas pajak.

Karena itulah kuat dugaan masih banyak peninggalan arkeologis yang terpendam di dalam tanah di kawasan ini,”  kata Dwi Cahyono.
Warga Tlogomas sendiri masih sering menemukan sisa batu bata kuno saat menggali tanah sekitar. Termasuk di bekas lokasi patirtan yang kini jadi tempat pemandian umum. Mereka juga memanfaatkan bata kuno temuan itu untuk pemugaran jalan di pemandian umum itu.

Perlahan tapi pasti, warga mulai sadar lalu menyelamatkan temuan-temuan itu. Tembok di Situs Karuman, misalnya, baru dibangun warga di awal tahun 2000-an. Dahulu, cagar budaya itu dibiarkan dalam ruang terbuka. Situs kini dianggap memiliki nilai penting untuk sejarah desa.

Warga juga ada keinginan membongkar kolam pemandian dan memindahkannya. Di tempat itu ingin dibangun patirtan tiruan, setidaknya mengingatkan warga bahwa kampung mereka adalah desa kuno. Air yang keluar dari arung juga akan dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH).

Hal Menarik di Situs Karuman

Sebenarnya banyak hal menarik yang dapat kita lakukan di Situs Karuman, asalkan kita dapat menarik sudut pandang yang sama atau menyamakan frekwensi pemikiran tentang tempat ini beserta penghuni gaib di dalamnya.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo


Karena saat memasuki kawasan ini, kesan mistis dan angker memang terasa begitu kuat sehingga sebaiknya kita segera menyandarkan diri pada kekuasaan Tuhan lalu memandang suasana mistis tersebut sebagai keberadaan mahluk-mahluk gaib penghuninya.

Nah, ketika kita memandang mereka sebagai sesama mahluk Tuhan, maka tata krama dan aturan sesama mahluk harus kita terapkan dengan cara mengucapkan salam lalu mengutarakan niat kita untuk bersilaturahmi. Akan lebih baik lagi apabila kita mau mendoakan mereka.
“Asalamu alaikum salam, Eyang pun wayah ingkang sowan.”
Itulah salam yang biasa diajarkan oleh para juru kunci tempat-tempat angker. Secara tidak langsung, akan membawa fikiran dan perasaan kita kepada suasana berkunjung ke rumah kakek atau nenek kita sendiri sehingga kita merasa nyaman dan aman.

Setelah itu, barulah kita dapat menikmati keindahan alam sekitarnya dan merasakan suasana tenang dan damai ditempat ini. 

Ternyata, di lokasi ketiga Situs Karuman atau di sumber air, memiliki banyak potensi yang sangat layak dijadikan sebagai objek wisata baik wisata sejarah, wisata alam dan wisata edukasi.

Beberapa daya tarik Situs Karuman adalah sebagai berikut.

Goa Ken Arok

Goa yang berada di atas pemandian dengan pohon-pohon besar di kanan-kirinya merupakan goa bersejarah peninggalan kerajaan Singosari atau kerajaan terdahulu. Menurut penuturan juru kunci, goa ini adalah goa yang dibuat oleh Ken Arok sehingga sangat sayang jika dirusak atau dibiarkan terbengkalai.

Sumber Air Ken Arok

Sumber air yang berada di situs Karuman ini merupakan sumber air yang juga mengandung nilai sejarah berkaitan dengan keberadaan Joko Lola atau Ken Arok. Manfaatnya pun banyak dirasakan oleh masyarakat sehingga mata air ini harus tetap dijaga kelestariannya  termasuk lingkungan pendukungnya seperti pohon-pohon berumur puluhan atau ratusan tahun.

Goa Pertapa di Pinggir Sungai Brantas

Menurut Elang, terdapat goa batu yang berada di pinggiran sungai Brantas. Konon, goa ini sering digunakan untuk bertapa oleh leluhur kita dahulu sehingga peninggalan unik dan langka ini sebaiknya tetap dijaga dan dilestarikan serta dapat menambah daya tarik tempat ini.

Tangga dan Dinding dengan lukisan Mural

Keberadaan tangga dan dinding dengan lukisan mural di situs Karuman ini dapat menjadi spot foto yang unik dan menarik. Di dinding itu, tampak lukisan pejuang HAM yaitu Munir dan beberapa lukisan unik lainnya.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Lukisan mural di dinding Situs Karuman

Lukisan di dinding itu akan lebih tepat bila bertemakan kerajaaan atau kondisi pada masa lalu karena berhubungan dengan jejak sejarah kerajaan jaman dulu.

Saung-saung Bambu 

Deretan saung atau gubuk terbuat dari bambu semakin menambah keunikan tempat ini. Pengunjung dapat memanfaatkannya untuk beristirahat, nongkrong bersama teman-teman maupun berdiskusi sambil menikmati kopi atau minuman hangat lainnya.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Menikmati Kopi di saung bambu Situs Karuman

Jembatan Unik dan Menarik

Jembatan gantung yang menghubungkan daerah Telogo Mas dengan kampung sebelahnya ini memiliki desain unik dan menarik sehingga dapat dijadikan sebagai spot foto bagi penggemar fotografi.

situs karuman; situs karuman dinoyo; situs karuman tlogomas; situs karuman tlogomas dinoyo malang; jejak masa muda ken arok; joko lola; jejak joko lola; karuman; dinoyo
Jembatan gantung yang unik dan menarik di Situs Karuman

Asal Nama Telogo Mas

Konon, pada jaman dulu, sebelum dibuatkan pemandian, sumber air di situs Karuman ini mengalir membentuk sebuah telaga. Saat hujan, tetesan air dari langit yang menimpa telaga ini terlihat seperti gumpalan-gumpalan emas sehingga daerah ini disebut sebagai Tlogo Mas atau Telaga Emas.

Nah, inilah Situs Karuman yang menjadi jejak sejarah keberadaan Joko Lola yang menjadi sebutan atau julukan warga Panawijen bagi Ken Angrok.

Video Tentang Situs Karuman





 

Goa Mlaten Atau Goa Polaman, Tempat Eksotis Hanya Untuk Para Pemberani

Ayo Dolen Rek Ke Goa Mlaten atau Goa Polaman - Selain Candi dan Sumber air, salah satu situs sejarah yang berkaitan dengan kerajaan  Singosari adalah sebuah goa di tebing sebuah bukit kecil tepatnya berada di Dusun Sumber Mlaten, Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Goa itu dikenal dengan nama Goa Polaman karena dekat dengan sumber Polaman atau Goa Mlaten karena berada di dusun Sumber Mlaten.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Goa Mlaten atau Goa Polaman Lawang, Malang

Goa ini berada di cerukan sungai Mlaten, dibawah jembatan Sumber Mlaten dan tepat di depan Makam Muslim Kalirejo. Sebelum memasuki jalan menuju Goa Mlaten ini terdapat sebuah rumah warga yang tidak terurus lagi dan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Sementara di sisi kanan goa berdiri beberapa rumah warga.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang

Meskipun dekat dengan rumah warga dan berada dipinggir jalan raya namun suasana magis dan menyeramkan sangat terasa mengingat di depan goa ini adalah makam dengan tanaman Kamboja berumur puluhan bahkan ratusan tahun. Ditambah lagi dengan keberadaan sebuah rumah kosong yang terlihat angker.

Sehingga orang enggan mendatangi tempat ini meskipun pada siang hari. Terlebih lagi pada malam hari. Maka, hanya mereka yang memiliki jiwa petualang,  para pejalan malam, pelaku spiritual dan mereka yang tertarik pada sejarah saja yang berani datang ke tempat ini.

Dapat disimpulkan, Goa Mlaten atau Goa Polaman ini lebih tepat dijadikan sebagai salah satu objek wisata spiritual dan hanya untuk para pemberani. Dan, karena sarat dengan nilai-nilai sejarah, maka BPCB Jawa Timur menjadikan Goa Polaman sebagai salah satu cagar budaya yang harus dilindungi.

Sebelumnya, untuk sampai ke goa yang penuh dengan sejarah ini sangatlah sulit, karena belum ada jalannya sehingga pengunjung harus melewati semak belukar dan memanjat batu-batuan besar. Namun pada tahun 2015, Lembaga Komunitas Pemerhati Budaya dan Sejarah “Jaya Wisnu Wardhana”, menerima hibah dari pemerintah propinsi Jawa Timur untuk melakukan perbaikan jalan menuju Goa Polaman ini.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Lembaga Komunitas Pemerhati Sejarah dan Budaya
Jaya WIsnu Wardhana

Sekarang, jalanan menuju ke goa Polaman ini sudah cukup baik dimana di sisi jalan ditambahkan tanaman-tanaman hias yang memberi kesan asri dan dua gubuk terbuat dari bambu yang disediakan bagi para wisatawan untuk beristirahat.

Kebetulan, Penulis mengunjungi Goa Mlaten ini bersama Bapak Imam Santoso, Ketua Lembaga Komunitas Pemerhati Budaya dan Sejarah “Jaya Wisnu Wardhana”, sehingga dapat dengan mudah menemukan lokasinya.

Apa Saja yang ada di Goa Polaman?

Biasanya, keberadaan sebuah goa terletak di lereng-lereng bukit yang terjal, penuh semak belukar dan sulit dijangkau manusia. Namun, berbeda dengan Goa Polaman yang sudah dikemas sebagai salah satu objek wisata sejarah dan spiritual sehingga mudah dijangkau dan diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Pemandanfan eksotis di Goa Mlaten, Lawang, Malang

Selain itu, dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitar Goa Polaman, ditambahkan beberapa fasilitas dan benda-benda kuno sebagai penambah daya tariknya seperti berikut ini.

Lingga Setomo dan Nyai Setomi

Di depan pintu goa Polaman terdapat dua buah batu kuno dengan lobang ditengahnya, diperkirakan sebuah lingga sehingga disebut lingga Kyai Setomo dan Nyai Setomi. Kedua batu berlobang ini ditemukan oleh komunitas “Jaya Wisnu Wardhana”  saat melakukan perbaikan jalan menuju goa Polaman ini.

Tentang sejarah dan asal-usulnya masih belum diketahui dengan jelas.

Ruang Meditasi

Di dalam goa terdapat ruangan kecil yang hanya muat untuk tubuh satu orang dewasa saja. Diperkirakan, ruangan inilah yang digunakan untuk bertapa oleh leluhur kita dahulu.

Selain ruangan di dalam goa, tersedia dua gubuk terbuat dari bambu yang terdapat di jalan menuju goa dan di sisi kiri goa tepat diatas batu-batu besar. Gubuk-gubuk inilah yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk melakukan perenungan, meditasi maupun bercengkerama dengan teman-teman.

Batu-batu Gunung dan mata air

Satu pemandangan yang jarang ditemukan ditempat lain dan hanya ada di Goa Mlaten ini adalah kumpulan batu batu gunung dengan ukuran sangat besar yang diantaranya mengalir sebuah mata air kecil dan membentuk sebuah kolam kecil.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Unik dan Eksotis, Suasana di Goa Polaman Lawang, Malang
Sementara, dibelakangnya rumpun-rumpun pohon bambu dan pohon-pohon lainnya seolah menaungi dan memberi keteduhan tempat ini.

Tempat Sesaji

Karena situs Goa Polaman ini merupakan warisan sejarah jaman kerajaan dahulu, maka budaya yang berlaku pada masa itu, masih tetap dipertahankan hingga kini yaitu ritual “suguh” atau sesajian.

Tepat di depan pintu goa, terdapat semacam altar yang digunakan untuk mengantarkan sesaji atau membakar dupa. 
Itulah beberapa daya tarik Goa Mlaten yang dapat kita temukan saat mengunjungi objek wisata sejarah ini.

Sejarah Goa Polaman

Terdapat beberapa versi tentang sejarah Goa Polaman ini, semuanya berkaitan dengan kisah-kisah sejarah pada masa lampau. Namun, karena belum dilakukan penelitian lebih mendalam oleh para ahli sejarah sehingga cerita yang beredar di masyarakat masih simpang-siur.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang

Meskipun demikian, keberadaan kisah dan legenda tentang Goa Polaman akan semakin memperkaya dan menambah daya tarik objek wisata sejarah ini.

Satu versi sejarah yang dapat meyakinkan BPCB Jawa Timur adalah versi dari Komunitas Pemerhati Budaya dan Sejarah “Jaya Wisnu Wardhana” sehingga kemudian pemerintah mau memberikan hibah untuk memperbaiki jalan menuju Goa Polaman ini.

Goa Polaman dan Kerajaan Wurawari

Menurut penuturan Bapak Imam Santoso, Ketua Lembaga Komunitas Pemerhati Budaya dan Sejarah “Jaya Wisnu Wardhana”, Goa Polaman ini erat kaitannya dengan keberadaan kerajaan Wurawari. Menurutnya, Goa Polaman ini merupakan pusat dari kerajaan para raksasa yang pernah menjadi sekutu kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Wurawari ini beribukota di Lowrang atau Lowarang. Diperkirakan berada di Lawang karena ada kemiripan pengucapan dari Lowarang berubah menjadi Lowang dan kemudian menjadi Lawang. Dan, Lawang adalah kecamatan dimana Goa Polaman ini berada.

Menurut Prof. Dr. Slamet Mulyana dalam bukunya “Nagarakretagama Dan Tafsir Sejarahnya”, menceritakan bahwa pada zaman pemerintahan Raja Sindok, ibukota kerajaannya pada kwartal pertama abad sepuluh adalah di Watu Galuh.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang


Kemudian, ibukota kerajaan dipindahkan ke Watan yang berada di kaki gunung Penanggungan, sebelah selatan Sidoarjo yang juga merupakan tempat dimakamkannya Raja Dharmawangsa. Dalam prasasti Pucangan, disebutkan jika Raja Dharmawangsa tewas karena serangan mendadak Raja Wurawuri pada tahun 1006.

Setelah Raja Erlangga berhasil memusnahkan Raja Wurawuri dan merebut kembali kerajaan yang didudukinya, ibukota kerajaan dipindahkan ke Watan Mas di kaki gunung Penanggungan.

Nah, dari cerita tersebut, serangan mendadak dari kerajaan Wurawuri dapat berhasil dengan baik karena lokasinya berdekatan dengan kerajaan Dharmawangsa. Dan, lokasi terdekat dari Watan atau kaki gunung Penanggungan sebelah timur adalah Lawang. 

Sehingga cukup beralasan apabila Goa Polaman ini merupakan situs sejarah yang menjadi pusat kerajaan Wurawari yang merupakan kerajaan para raksasa.

Pengalaman Mistis Selama Pembangunan Jalan Menuju Goa Polaman

Proses pembangunan jalan menuju ke Goa Polaman tidaklah semudah membangun jalan ditempat-tempat lain yang tidak ada peninggalan sejarahnya. Selain harus berhati-hati agar situs tersebut tidak rusak, pihak pemborong harus memahami dan mengerti budaya dalam rangka minta ijin dan menghormati penghuni gaib tempat tersebut.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Jalan menuju Goa Polaman Lawang, Malang

Itulah yang dilakukan Pak Imam bersama rombongannya. Mereka mengadakan selamatan terlebih dahulu untuk minta ijin kepada para penghuni gaib Goa Polaman dan sekitarnya agar tidak mengganggu para pekerja saat pembangunan berlangsung.

Pada malam harinya, mereka mengadakan ritual “melekan” atau tidak tidur semalaman sekaligus menjaga barang dan bahan bangunan dari tangan-tangan jahil. Saat beberapa malam melakukan “melekan” itulah, mereka menyaksikan beberapa fenomena gaib  seperti berikut ini.

Penampakan Rombongan Bajang

Pada malam itu, Pak Imam Santoso bersama beberapa orang yang rata-rata memiliki kemampuan spiritual, sedang duduk-duduk sambil berbincang di lokasi gubug pertama menuju Goa Polaman. Tepat didepan gubug tersebut ada satu tanjakan atau tanah yang menanjak.

Kira-kira jam 1 malam, mereka melihat penampakan rombongan bajang atau anak raksasa kecil keluar dari tanah yang menanjak tersebut. Mereka tidak berani menegur, hanya mengucapkan salam sambil berdoa dalam hati. Penampakan itu berlangsung cukup lama, sampai seluruh rombongan dengan segala tingkah polahnya keluar dari tanah tersebut.

Setelah para bajang itu hilang dari pandangan, barulah mereka berbisik-bisik memperbincangkannya. Hampir semua orang ditempat itu melihat penampakan gaib ini.

Penampakan Ular Weling Raksasa

Pada malam berikutnya, bersama orang-orang yang sama, Pak Santoso, menyaksikan penampakan gaib lainnya berupa ular weling raksasa yang lewat dihadapan mereka. Umumnya, seekor ular weling berukuran paling besar adalah sekitar sebesar ibu jari. Namun, ular weling yang muncul ini sebesar lengan orang dewasa.

Mengingat bahaya racun akibat digigit ular weling itu, mereka bersikap waspada dengan mempersenjatai diri dengan ranting-ranting bambu untuk membela diri apabila ular tersebut menyerang.

Akan tetapi, ular tersebut hanya melewati mereka saja, tidak menggangu atau menyerang. Anehnya, ular tersebut berjalan sangat pelan, tidak seperti ular yang sedang berhadapan dengan manusia, bergerak cepat menghindar atau menyerang.

Saat menunggu ular weling tersebut segera berlalu, jantung pak Santoso dkk berdegup kencang karena khawatir jika tiba-tiba ular itu berbalik lalu menyerang mereka. Dan, ketika sang ular hilang dari pandangan, barulah mereka menarik nafas lega.

Goa Polaman Pada Masa Kerajaan Singosari 

Pada masa kerajaan Singosari, konon, goa Polaman dipercaya menjadi salah satu tempat pertapaan dari Ken Arok dan Jayakatwang.

Legenda Goa Polaman

Konon, Goa Mlaten ini dipercaya merupakan jalan rahasia menuju istana kerajaan Singhasari. Hal ini berdasarkan legenda yang dipercaya masyarakat setempat yaitu legenda percintaan antara raja dari Pulau Bali, Kelana Rangga Puspita dengan putri kerajaan Singosari, Dyah Rangga Munti.

Menurut sebuah sumber yang tidak mau disebutkan namanya, legenda Rangga Puspita ini adalah kisah rekaan yang menyamarkan keberadaan tokoh sesungguhnya. Dalam Serat Pararaton memang tidak disebutkan secara detil bagaimana kelanjutan hubungan antara Ken Arok dan Ken Dedes setelah Ken Arok melihat cahaya yang terpancar dari tubuh Ken Dedes.

Apakah cinta Ken Arok bertepuk sebelah tangan?

Brahmana Logawe, guru dan ayah angkat Ken Arok, memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Mpu Purwa, ayah Ken Dedes. Dan, Mpu Purwa marah ketika putri kesayangannya dibawa paksa oleh Tunggul Ametung sehingga terucap kutukannya pada rakyat Polowijen.

Brahmana Logawe sendiri adalah seorang brahmana Hindu yang datang dari India hanya untuk menemui dan membimbing Ken Arok. Karena sang Brahmana yakin jika pemuda nakal ini memiliki tanda-tanda sebagai  titisan dari Hyang Wisnu yang bertugas menyelamatkan dunia dari kejahatan dan angkara murka.

Sebagai seorang Brahmana, Lohgawe sudah mendengar dan menyaksikan sendiri apa yang dilakukan oleh Prabu Dandang Gendis atau Kertajaya di Kediri yang mengaku sebagai Bathara Siwa lalu memaksa semua brahmana di wilayah kekuasaannya untuk tunduk dan mengakuinya.

Jika dihubungkan, maka tugas yang diberikan kepada Ken Arok sebagai titisan Bathara Wisnu adalah untuk mengalahkan Raja Kertajaya di Kediri. Dan, untuk mencapai tujuan itu, Ken Arok harus menjadi seorang Raja terlebih dahulu.

Jalan untuk menjadi raja adalah dengan menikahi Ken Dedes seorang wanita istimewa yang memiliki tanda sebagai ibu para raja terlebih dahulu. Maka, dibuat satu cerita tentang Rangga Puspita dengan Dyah Rangga Munti sebagai penutup kisah percintaan antara Ken Arok dan Ken Dedes.

Jika memang benar Goa Polaman merupakan jalan menuju istana Tumapel maka orang yang tepat dan dapat melakukannya adalah Ken Arok.

Akses dan Lokasi Goa Polaman

Goa Polaman berada di wilayah Dusun Sumber Mlaten, Desa Kalirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. 

Ases menuju goa Mlaten ini dapat di capai dari arah Jalan Malang-Surabaya, kemudian berjalan ke arah barat setelah Pasar Lawang dan masuk ke Jalan Indrokilo lalu menuju dusun Sumber Mlaten.

goa mlaten; goa mlaten lawang; goa polaman; goa polaman lawang; goa polaman lawang malang; situs wura wari; kidung wukir polaman; polaman semarang; polaman dampit; sumber polaman; sumber polaman lawang
Jalan menuju Goa Mlaten Lawang, Malang
Angker dan menyeramkan..

Atau saat mengunjungi Sumber Polaman, Anda dapat bertanya pada penduduk sekitar tentang lokasi Goa Polaman atau Goa Mlaten.

Tarif Masuk Goa Polaman

Karena masih baru dan masih belum banyak pengunjung yang mendatangi objek wisata sejarah ini, maka kita tidak dikenakan bea masuk atau gratis.

Objek Wisata Dekat Goa Polaman

Untuk menjelajahi objek-objek wisata lainnya baik wisata alam atau wisata yang berkaitan dengan sejarah kerajaan Singosari lainnya, silahkan kembali ke Pasar Lawang. Dari pasar ini, kita dapat mengunjungi beberapa objek wisata lainnya seperti berikut ini.