Logo Branding “The Heart Of East Java” Dan Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang – Kabupaten Malang merupakan satu wilayah yang terletak di jantung propinsi Jawa Timur sehingga layak disebut sebagai “The Heart Of East Java.” Kabupaten yang berjarak sekitar 80 km dari ibukota Surabaya ini memiliki iklim yang sejuk dan tanah yang subur serta relief kenampakan alam yang menakjubkan.
Logo Branding “The Heart Of East Java” Dan Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang
Foto : Alumni SMANDA88 Malang
Potensi wisata yang dimiliki sangat lengkap dan menarik untuk dijelajahi mulai dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Potensinya terbagi dalam kekayaan wisata alam yang mempesona atau wonder nature, budaya yang luhur atau great culture serta masyarakat yang unik dan ramah atau authentic rural.
Semua potensi wisata tersebut diharapkan dapat menciptakan keragaman yang akan meningkatkan jumlah wisatawan baik lokal maupun manca negara serta membuat wisatawan betah dan berlama-lama tinggal di Kabupaten Malang.
Pantai-pantai yang indah di Jalur Lintas Selatan Kabupaten Malang
Kabupaten Malang memiliki kekayaan alam yang eksotis dan beragam mulai dari pegunungan, air terjun, sumber air hingga pantai-pantai yang indah sepanjang Jalur Lingkar Selatan atau JLS. Di sektor kebudayaan, Kabupaten yang menjadi jantung Jawa Timur ini juga kaya akan peninggalan bersejarah mulai dari kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari.
Candi Singosari, Kabupaten Malang
Sebagian besar masyarakat Malang yang ramah masih melestarikan warisan budaya para leluhur dalam bentuk ritual, seni dan budaya religi. Satu potensi wisata yang sangat lengkap dan beragam sehingga pemkab Malang mulai menata dan mengembangkannya menjadi paket-paket wisata yang unik dan menarik.
Dalam rangka memasarkan potensi pariwisatanya, Kabupaten Malang mewujudkan dengan membagi menjadi “lima jalur pariwisata Kabupaten Malang” yang disesuaikan dengan potensi pariwisata dan segmen wisatawan.
Kabupaten Malang telah meluncurkan logo branding bagi pengembangan wisata daerahnya yang di launcing pada tahun 2017 di Cafe Sawah Pujon oleh Bupati Malang, Rendra Kresna yaitu "The Heart Of East Java".
Logo Branding Pariwisata Kabupaten Malang “The Heart Of East Java”
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, dikatakan jika logo tersebut mempunyai makna yang sangat luas. Dimana kata “The heart” yang berarti hati, mempunyai makna, keramahan, cinta, persaudaraan yang mendalam dan sepenuh hati sebagai perlambang prilaku positif masyarakat kabupaten Malang.
Pertanian menjadi objek wisata menarik di Desa Pujon Kidul, Malang
Kemudian, “The heart” juga berarti jantung atau pusat yang mempunyai makna sebagai cita-cita pariwisata kabupaten Malang yang menitikberatkan pada ekowisata yang berbasis alam, budaya dan kemasyarakatan sehingga diharapkan akan menjadi pusat inspirasi pariwisata di Jawa Timur. Memang, secara posisi geografi, kabupaten Malang berada tepat di tengah atau central dari Provinsi Jawa Timur.
Selain kalimat “The Heart Of East Java” dan Kabupaten Malang, terdapat satu simbol berupa huruf M dan angka 3. Dimana huruf M berarti Malang dan juga diartikan yang digambarkan seperti lekukan gunung dengan warna biru yang juga berarti kabupaten Malang punya banyak sekali wisata alam pegunungan yang indah.
Potensi Wisata Alam di Desa Wisata Pujon Kidul, Malang
Foto : 4 Primadona Desa SMANDA88 Malang
Kemudian, angka tiga dengan warna hijau selain melambangkan sungai yang mengaliri sawah pertanian juga diartikan sebagai trimatra yang artinya meliputi tiga potensi yang ada di wisata kabupaten yaitu Wonder Nature, Great Culture dan Authentic Rural.
Selain itu, bentuk M dan angkat tiga itu itu sengaja diselaraskan dengan konsep Madep, Manteb, Manetep.
Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, mengelompokkan potensi wisata yang ada di wilayahnya dalam lima jalur. Dimana, masing-masing jalur merupakan perpaduan wisata alam, wisata sejarah dan kuliner seperti berikut ini.
Pantai Balekambang Malang
Foto : Pengurus IKASMANDA Malang
A Day-Tripper Path
Jalur a day-tripper path, merupakan jalur perjalanan wisata yang diharapkan selesai dalam satu hari saja. Berawal dari wilayah Lawang dan berakhir di Bendungan Selorejo.
Merupakan jalur wisata bagi wisatawan yang gemar petualangan dan tantangan serta kegiatan yang memacu adrenalin sebelum akhirnya menikmati keindahan Gunung Bromo.
Gunung Bromo Ikon Wisata Jawa Timur
Foto : Susilowati dkk
Spectaculous Vulcanic Path
Merupakan jalur wisata yang diperuntukkan bagi wisatawan dengan aktifitas ringan sebelum menuju ke Gunung Bromo.
Taman Wisata Air Wendit
Desa Wisata Jeru
Candi Jago
Candi Kidal
Desa Wisata Poncokusumo
Petik Apel Gubugklakah
Desa Wisata Ngadas
Gunung Bromo
Adventurous Marine Path
Jalur wisata diperuntukkan bagi wisatawan yang suka petualangan dan tantangan beragam.
Sumber Maron
Sumber Taman
Sumber Sira
Kopi Dampit
Bowele
Coban Sewu
Panoramic Marine Path
Bagi penggemar wisata alam pantai diajak untuk menikmati budaya dan kuliner sepanjang perjalanan menuju pantai-pantai Jalur Lintas Selatan Malang.
Padepokan Asmoro Bangun
Taman Wisata Bonderland
Kuliner Kepanjen
Desa Wisata Sanankerto
Masjid Tiban
Pantai Balekambang
Pantai Jalur Lintas Selatan
Warung Anda, kuliner Kepanjen
Foto : Matt Dolan
Itulah kelima jalur pariwisata Kabupaten Malang yang unik, menarik dan sangat layak dikunjungi pada hari libur.
Gambaran kelima jalur wisata tersebut masih merupakan gambaran umum karena masih banyak objek-objek wisata dan kuliner unik lainnya yang ada di Kabupaten Malang, yang belum disebutkan. Sehingga untuk detail kunjungan, tempat dan waktunya akan diterjemahkan dalam bentuk paket-paket wisata oleh penyelenggara atau stakeholder wisata daerah masing-masing.
Nah, ini adalah peluang bagus bagi para pengusaha terkait dengan dunia pariwisata di Malang untuk membuat paket-paket wisata unik dan menarik yang diminati wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Logo Branding “The Heart Of East Java” Dan Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang – Kabupaten Malang merupakan satu wilayah yang terletak di jantung propinsi Jawa Timur sehingga layak disebut sebagai “The Heart Of East Java.” Kabupaten yang berjarak sekitar 80 km dari ibukota Surabaya ini memiliki iklim yang sejuk dan tanah yang subur serta relief kenampakan alam yang menakjubkan.
Logo Branding “The Heart Of East Java” Dan Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang
Foto : Alumni SMANDA88 Malang
Potensi wisata yang dimiliki sangat lengkap dan menarik untuk dijelajahi mulai dari dataran tinggi hingga dataran rendah. Potensinya terbagi dalam kekayaan wisata alam yang mempesona atau wonder nature, budaya yang luhur atau great culture serta masyarakat yang unik dan ramah atau authentic rural.
Semua potensi wisata tersebut diharapkan dapat menciptakan keragaman yang akan meningkatkan jumlah wisatawan baik lokal maupun manca negara serta membuat wisatawan betah dan berlama-lama tinggal di Kabupaten Malang.
Pantai-pantai yang indah di Jalur Lintas Selatan Kabupaten Malang
Kabupaten Malang memiliki kekayaan alam yang eksotis dan beragam mulai dari pegunungan, air terjun, sumber air hingga pantai-pantai yang indah sepanjang Jalur Lingkar Selatan atau JLS. Di sektor kebudayaan, Kabupaten yang menjadi jantung Jawa Timur ini juga kaya akan peninggalan bersejarah mulai dari kerajaan Kanjuruhan hingga Singhasari.
Candi Singosari, Kabupaten Malang
Sebagian besar masyarakat Malang yang ramah masih melestarikan warisan budaya para leluhur dalam bentuk ritual, seni dan budaya religi. Satu potensi wisata yang sangat lengkap dan beragam sehingga pemkab Malang mulai menata dan mengembangkannya menjadi paket-paket wisata yang unik dan menarik.
Dalam rangka memasarkan potensi pariwisatanya, Kabupaten Malang mewujudkan dengan membagi menjadi “lima jalur pariwisata Kabupaten Malang” yang disesuaikan dengan potensi pariwisata dan segmen wisatawan.
Kabupaten Malang telah meluncurkan logo branding bagi pengembangan wisata daerahnya yang di launcing pada tahun 2017 di Cafe Sawah Pujon oleh Bupati Malang, Rendra Kresna yaitu "The Heart Of East Java".
Logo Branding Pariwisata Kabupaten Malang “The Heart Of East Java”
Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang, dikatakan jika logo tersebut mempunyai makna yang sangat luas. Dimana kata “The heart” yang berarti hati, mempunyai makna, keramahan, cinta, persaudaraan yang mendalam dan sepenuh hati sebagai perlambang prilaku positif masyarakat kabupaten Malang.
Pertanian menjadi objek wisata menarik di Desa Pujon Kidul, Malang
Kemudian, “The heart” juga berarti jantung atau pusat yang mempunyai makna sebagai cita-cita pariwisata kabupaten Malang yang menitikberatkan pada ekowisata yang berbasis alam, budaya dan kemasyarakatan sehingga diharapkan akan menjadi pusat inspirasi pariwisata di Jawa Timur. Memang, secara posisi geografi, kabupaten Malang berada tepat di tengah atau central dari Provinsi Jawa Timur.
Selain kalimat “The Heart Of East Java” dan Kabupaten Malang, terdapat satu simbol berupa huruf M dan angka 3. Dimana huruf M berarti Malang dan juga diartikan yang digambarkan seperti lekukan gunung dengan warna biru yang juga berarti kabupaten Malang punya banyak sekali wisata alam pegunungan yang indah.
Potensi Wisata Alam di Desa Wisata Pujon Kidul, Malang
Foto : 4 Primadona Desa SMANDA88 Malang
Kemudian, angka tiga dengan warna hijau selain melambangkan sungai yang mengaliri sawah pertanian juga diartikan sebagai trimatra yang artinya meliputi tiga potensi yang ada di wisata kabupaten yaitu Wonder Nature, Great Culture dan Authentic Rural.
Selain itu, bentuk M dan angkat tiga itu itu sengaja diselaraskan dengan konsep Madep, Manteb, Manetep.
Lima Jalur Pariwisata Kabupaten Malang
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, mengelompokkan potensi wisata yang ada di wilayahnya dalam lima jalur. Dimana, masing-masing jalur merupakan perpaduan wisata alam, wisata sejarah dan kuliner seperti berikut ini.
Pantai Balekambang Malang
Foto : Pengurus IKASMANDA Malang
A Day-Tripper Path
Jalur a day-tripper path, merupakan jalur perjalanan wisata yang diharapkan selesai dalam satu hari saja. Berawal dari wilayah Lawang dan berakhir di Bendungan Selorejo.
Merupakan jalur wisata bagi wisatawan yang gemar petualangan dan tantangan serta kegiatan yang memacu adrenalin sebelum akhirnya menikmati keindahan Gunung Bromo.
Gunung Bromo Ikon Wisata Jawa Timur
Foto : Susilowati dkk
Spectaculous Vulcanic Path
Merupakan jalur wisata yang diperuntukkan bagi wisatawan dengan aktifitas ringan sebelum menuju ke Gunung Bromo.
Taman Wisata Air Wendit
Desa Wisata Jeru
Candi Jago
Candi Kidal
Desa Wisata Poncokusumo
Petik Apel Gubugklakah
Desa Wisata Ngadas
Gunung Bromo
Adventurous Marine Path
Jalur wisata diperuntukkan bagi wisatawan yang suka petualangan dan tantangan beragam.
Sumber Maron
Sumber Taman
Sumber Sira
Kopi Dampit
Bowele
Coban Sewu
Panoramic Marine Path
Bagi penggemar wisata alam pantai diajak untuk menikmati budaya dan kuliner sepanjang perjalanan menuju pantai-pantai Jalur Lintas Selatan Malang.
Padepokan Asmoro Bangun
Taman Wisata Bonderland
Kuliner Kepanjen
Desa Wisata Sanankerto
Masjid Tiban
Pantai Balekambang
Pantai Jalur Lintas Selatan
Warung Anda, kuliner Kepanjen
Foto : Matt Dolan
Itulah kelima jalur pariwisata Kabupaten Malang yang unik, menarik dan sangat layak dikunjungi pada hari libur.
Gambaran kelima jalur wisata tersebut masih merupakan gambaran umum karena masih banyak objek-objek wisata dan kuliner unik lainnya yang ada di Kabupaten Malang, yang belum disebutkan. Sehingga untuk detail kunjungan, tempat dan waktunya akan diterjemahkan dalam bentuk paket-paket wisata oleh penyelenggara atau stakeholder wisata daerah masing-masing.
Nah, ini adalah peluang bagus bagi para pengusaha terkait dengan dunia pariwisata di Malang untuk membuat paket-paket wisata unik dan menarik yang diminati wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Ayo Dolen Rek Ke Situs Ken Dedes Polowijen - Hari yang cerah ketika kami mulai melangkahkan kaki menyusuri pinggiran sungai kecil di Kampung Budaya Polowijen lalu menapakkan kaki di pematang sawah. Tidak begitu lama, di batas hamparan padi yang mulai menguning, nampak pohon-pohon besar dengan daun yang rimbun berwarna hijau segar. Dibawahnya, terdapat papan dengan penyangga besi bertuliskan “Situs Ken Dedes”.
Dibelakangnya, terdapat bangunan kecil berupa pendopo dengan arsitektur Joglo yang dikelilingi pagar setinggi 1 meter dengan gapura yang dihiasi ornament teratai tunjung dan simbol Cakra Majapahit. Masuk ke dalam area ini, kita akan menemukan sebuah pohon bersarung kain hitam putih yang dibawahnya terdapat tiga sumur. Ketiga sumur inilah yang disebut sebagai Sumur Windu.
Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang
Namun, dari ketiga sumur ini, hanya dua sumur yang diberi ornamen rumah joglo kecil atau cungkup yang di sebelahnya terdapat payung susun tiga berwarna hijau. Sementara sumur satunya, terdapat sebuah batu andesit di dampingi tiang bendera merah putih.
Sumur Windu di Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang
Diantara ketiga sumur dan pohon ini terdapat sebuah altar dengan keramik berwarna putih seluas 2 x 1 meter. Disamping sumur ketiga, terdapat “watu kenong” atau batu berbentuk alat music jaman dulu. Konon, batu ini adalah alat musik yang dikutuk oleh Joko Lola sehingga menjadi batu.
Watu Kenong, alat musik yang dikutuk menjadi batu di Situs Ken Dedes
Itulah, isi dari Situs Ken Dedes yang berada di desa Polowijen, Blimbing, Malang. Lokasinya dekat dengan Kampung Budaya Polowijen dan pemakaman umum, diantara hamparan sawah, ladang dan pemakaman yang disebut Petilasan Ken Dedes.
Penduduk Polowijen menyebut Situs Ken Dedes ini sebagai “Sumur Windu Abad XI” artinya sumur yang sangat dalam tak berujung dan dibuat pada abad XI. Situs ini juga disebut sebagai “Sendang Dedes” yang dibangun oleh warga Panawijen dan diresmikan pada tanggal 20 Juni 2002.
Jika di gerbang masuk sebelah utara Kota Malang dibangun Taman Ken Dedes dengan patung Prajna Paramitha, maka di desa Polowijen inilah sosok Ken Dedes lahir dan tumbuh besar sebagai gadis putri Mpu Purwa.
Dan, keberadaan Situs Ken Dedes ini, menjadi jejak sejarah yang menjadi kenangan tragedi cinta pertama sang Ratu SIngosari ini. Melalui dongeng yang dituturkan oleh Ki Demang, pendiri Kampung Budaya Polowijen, kami diajak untuk mengenang kembali kisah cinta putri Ken Dedes dengan pemuda dari dukuh Karuman, Dinoyo yang bernama Joko Lola.
Kisah tragedi cinta pertama Ken Dedes ini terjadi sebelum ia menjalani perkawinan pertama yang dilakukan secara paksa dengan Akuwu Tumapel yaitu Tunggul Ametung. Dan, kisah ini menjadi dongeng yang dituturkan dan dipahami oleh warga desa Polowijen dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pernikahan “wurung” atau pernikahan yang gagal.
Dalam dongeng ini juga terdapat kisah tentang asal muasal “watu kenong”, yaitu sebuah artefak berbentuk menyerupai waditra kenong dari batu andesit, yang berapa lama berada di halaman depan rumah warga pada tepi jalan desa di wilayah Kelurahan Polowijen.
Ilustrasi Mpu Purwa (Diorama Museum Mpu Purwa)
Pada masa itu, Ken Dedes tinggal bersama kedua orangtuanya dengan tenang dan damai di desa Panawijen. Ken Dedes tumbuh dewasa sebagai seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa. Tidak hanya kecantikan lahiriah saja namun budi pekerti serta tingkah lakunya juga baik mengingat ayahnya, Mpu Purwa, adalah seorang Pendeta Agama Budha yang disegani.
Seperti halnya bunga yang sedang mekar, maka harum wangi bunga itu menyebar kemana-mana terbawa angin. Begitu pula dengan cerita kecantikan Ken Dedes. Bunga desa Panawijen ini menjadi buah bibir di kalangan pemuda dari berbagai daerah.
Ilustrasi Ken Dedes (boombastis.com)
Namun, tidak mudah untuk mendapatkan cinta dari gadis putri Mpu Purwa ini. Sehingga banyak pemuda yang harus patah hati karena pinangannya ditolak.
Meskipun pada akhirnya harus menerima nasib pahit, Joko Lola, seorang pemuda dari dukuh Karuman yang berada dalam wilayah Dinoyo, lebih beruntung karena sempat memikat hati gadis berparas ayu ini. Keinginannya untuk mempersunting Ken Dedes diterima oleh Mpu Purwa sehingga Joko dari Karuman ini membawa pengiringnya untuk melamar.
Namun, ketika Joko Lola beserta pengiringnya telah tiba di Polowijen lengkap dengan uborampe pernikahannya, termasuk seperangkat alat musik pengiring. Mendadak, keluarga Ken Dedes mengajukan syarat yang tidak mudah dipenuhi. Pernikahan baru dapat dilangsungkan apabila Joko Lola dapat membuatkan sendang atau sumur windu dalam waktu hanya semalam.
Satu syarat yang sulit mengingat bahwa tanah di Desa Polowijen terbilang dalam dan susah mengeluarkan air sehingga permintaan tersebut sangat sulit diwujudkan. Apalagi hanya dalam waktu semalam saja.
Akan tetapi, karena rasa cintanya dan keinginannya untuk mempersunting bunga Panawijen ini begitu kuat sehingga syarat yang sangat sulit ini disanggupinya. Dengan kesaktiannya, pada pagi dini hari sebelum matahari terbit, sebuah sendang yang cukup besar dan dalam telah tergali dan mulai mengeluarkan air.
Namun, keberhasilan itu malah membuat cemas pihak Ken Dedes. Maka, keluarga Ken Dedes membuat “siasat penggagalan”‘. Sebelum sendang tersebut selesai, keluarga Ken Dedes segera membunyikan lesung bertalu-talu, seperti orang yang sedang bekerja menumbuk padi. Hal ini menjadi satu pertanda yang menunjukkan jika hari sudah mulai pagi.
Tentu saja, kejadian ini membuat Joko Lola terkejut sementara pekerjaannya belum sepenuhnya selesai. Dan, keluarga Ken Dedes memutuskan Joko Lola gagal memenuhi persyaratan yang diajukan sehingga pernikahan mereka digagalkan.
Meskipun Joko Lola berpendapat jika hari belum memasuki pagi, dan kegiatan menumbuk beras dilakukan terlampau dini. Tetapi, pihak keluarga Dedes bersikeras memutuskan dan menghakimi bahwa Joko Lola telah gagal membuat sendang dalam tempo semalam, dan sebagai konsekwensinya rencana pernikahannya digagalkan atau “wurung”.
Joko Lola marah. Ia merasa telah diakali atau disiasati sehingga rencana pernikahannya menjadi gagal. Dan, ia merasa sangat malu, karena iring-ringan pengantin dari Dinoyo menuju Poliwijen telah tiba di lokasi pernikahan, bahkan telah datang sejak sehari sebelumnya.
Maka, dengan kesaktiannya ditambah dengan amarahnya yang memuncak, salah satu alat musik pengiring berupa kenong ditendangnya dan dikutuk menjadi batu. Batu itulah yang dinamakan sebagai “watu kenong”.
Ken Dedes pun merasa malu sehingga ia berlari lalu terjun ke dalam salah satu sumur windu buatan Joko Lola. Sementara Joko Lola sendiri merasa malu dan telah kehilangan gadis yang sangat dicintainya sehingga ia memilih moksha atau meninggal dengan membawa serta raga atau badannya.
Tempat dimana Joko Lola mokhsa hingga sekarang masih ada dan diabadikan oleh warga Polowijen berupa tempat tetirah dengan pohon besar yang diberi sarung hitam putih. Letaknya diantara makam yang ada di pemakaman muslim Polowijen yang berada tidak terlalu jauh dari Situs Ken Dedes.
Tempat Mokhsa Joko Lola di Pemakaman Muslim Polowijen
Kegagalan pernikahan Ken Dedes dan Joko Lola berdampak pula pada masyarakat kedua daerah ini. Sehingga hubungan baik antara warga Polowijen dan Dinoyo menjadi ternoda. Bahkan, keluar pantangan atau “ilo-ilo” yang menganjurkan agar warga Dinoyo tidak menikah dengan warga Polowijen yang disebut dengan istilah “Satru Danyang.”
Siapakah Joko Lola itu?
Menurut dongeng diatas yang dituturkan oleh Isa Wahyudi yang akrab dipanggil Ki Demang di Kampung Budaya Polowijen, nama Joko Lola tidak terdapat dalam naskah Pararato maupun Nagarakretagama. Nama ini sebenarnya sebutan masyarakat Polowijen bagi Ken Angrok atau Ken Arok.
Dalam serat Paraton, Ken Arok adalah anak hubungan gelap antara Ken Endok dengan Bathara Brahma, seorang Dewa dalam ajaran Hindu yang bersifat gaib atau seorang berpengaruh yang tidak mau diketahui identitasnya. Kemudian, setelah bayi itu lahir, Ken Endok membuangnya ke tengah kuburan lalu ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Semenjak itu, Ken Angrok pindah dari ayah angkat satu ke ayah angkat lainnya hingga menjadi anak angkat Bango Samparan yang tinggal di dukuh Karuman. Dan, Ken Angrok sering melakukan pengembaraan atau perjalanan seorang diri.
Maka, sebutan Joko Lola yang berasal dari kata “joko” atau pemuda dan “lola” berarti pemuda tanpa ayah dan ibu atau pemuda “kabur kanginan” merupakan sebutan yang tepat bagi Ken Angrok.
Menurut Suwardono, Sejarawan Malang, keburukan Joko Lola bukanlah pada rupa atau wajahnya, namun lebih cenderung pada perilakunya. Karena, pada saat menjadi anak angkat Bango Samparan di dukuh Karuman, kenakalan Ken Angrok semakin bertambah parah.
Jika sosok Ken Dedes yang terkenal memiliki kecantikan luar biasa ini mau menaruh hati pada Joko Lola, maka dapat dibayangkan bagaimana penampilan sosok misterius ini. Tentunya, tampan dan gagah serta flamboyant.
Patung Ken Arok di GOR Ken Arok Malang (boombastis.com)
Suwardono mengatakan, “Ketika Ken Angrok dewasa, dia dikenal bukan sebagai pemuda dari Pangkur, tempat lahirnya, tetapi pemuda dari Karuman.”
Sementara, penduduk Polowijen lebih mengingat Dinoyo dibandingkan dengan Karuman. Karena Dinoyo adalah kota pemerintahan yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Kanjuruhan. Bahkan, Dinoyo masih dikenal hingga masa Mpu Sindok sebagai daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan.
Apakah Ken Dedes Tidak Mencintai Ken Angrok atau Joko Lola?
Boleh dikatakan, apabila Ken Arok adalah cinta pertama Ken Dedes sebelum ia dibawa lari oleh Tunggul Ametung. Dongeng diatas merupakan satu kiasan, jika Ken Dedes menghendaki Joko Lola atau Ken Angrok untuk merubah perbuatan dan perilakunya yang buruk terlebih dahulu sebelum menikahinya.
Dan, syarat yang sulit dan “strategi penggagalan” merupakan upaya menguji kesungguhan Joko Lola dalam memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Ken Dedes menolak menikah dengan Joko Lola atau Ken Angrok karena mengetahui jika pemuda Karuman ini masih belum berubah. Masih suka merampok, menggoda gadis-gadis, berjudi dan lain sebagainya.
Lalu, bagaimana dengan sumur Windu?
Sumur Windu dikatakan sebagai sumur yang dalam dan tak berujung. Menurut penafsiran penulis adalah jangka waktu yang ditetapkan Ken Dedes kepada Joko Lola untuk merubah perangai dan perbuatannya yang buruk. Tidak terbatas asalkan mau berubah.
Ken Dedes dibawa lari Tunggul Ametung (Diorama Museum Mpu Purwa)
Namun sayang, sebelum Joko Lola menunjukkan perubahan dalam dirinya, Ken Dedes sudah dibawa lari terlebih dahulu oleh Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Maka, harapan untuk bersama dan merajut cinta mereka kembali, harus melalui jalan yang lebih sulit.
Apabila Ken Dedes tidak mencintai Ken Angrok sebelumnya, maka tidak semudah itu Ken Dedes langsung jatuh cinta dan mau menerima cinta dari orang yang baru dikenalnya. Bahkan, orang yang telah membunuh suaminya. Alasan yang masuk akal apabila Ken Dedes sudah mengenal Angrok jauh sebelum dia dilarikan oleh Tunggul Ametung.
Begitu pula dengan Ken Angrok, alih-alih pertama kali melihat di Taman Baboji seperti versi Pararaton, justru sejak di Panawijen dia sudah menyadari kecantikan dan kelebihan Ken Dedes.
Ketika pada akhirnya Ken Dedes dilarikan oleh Tunggul Ametung, Mpu Purwa, dalam kutuknya seperti sudah tahu akan ada balasan setimpal bagi orang yang telah melarikan putrinya. Joko Lola, yang menurut Suwardono adalah Ken Angrok itu, pasti tidak akan tinggal diam melihat perempuan yang dia cintai dibawa lari. Sehingga Tunggul Ametung akan dibunuh dan Putri Dedes akan direbut kembali.
Video Taman Ken Dedes
Kesimpulan
Ken Dedes sang Ratu Singosari, tercatat dalam sejarah memiliki perjalanan cinta yang penuh dengan tragedi. Dan, dongeng lisan yang dituturkan warga Polowijen ini merupakan penegas jika sosok Ken Dedes adalah sosok wanita yang memiliki kesetiaan akan cinta pertamanya.
Meskipun harus menderita terlebih dahulu ketika dibawa paksa oleh Tunggul Ametung yang kemudian menikahinya. Akhirnya, Ken Dedes menemukan kembali cinta pertamanya dengan Joko Lola atau Ken Angrok walau harus melewati intrik dan strategi.
Seperti terdapat dalam Kisah Ramayana, akhirnya Dewi Sinta kembali ke dalam pelukan sang Rama setelah diculik oleh Rahwana. Dalam kepercayaan Hindu, jika Ken Angrok dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu maka Ken Dedes adalah titisan dari Dewi Laksmi atau Dewi Sri, kekasih Wisnu.
Dan, Situs Ken Dedes ini merupakan jejak sejarah tragedi cinta pertama Ratu Singosari.
Ayo Dolen Rek Ke Situs Ken Dedes Polowijen - Hari yang cerah ketika kami mulai melangkahkan kaki menyusuri pinggiran sungai kecil di Kampung Budaya Polowijen lalu menapakkan kaki di pematang sawah. Tidak begitu lama, di batas hamparan padi yang mulai menguning, nampak pohon-pohon besar dengan daun yang rimbun berwarna hijau segar. Dibawahnya, terdapat papan dengan penyangga besi bertuliskan “Situs Ken Dedes”.
Dibelakangnya, terdapat bangunan kecil berupa pendopo dengan arsitektur Joglo yang dikelilingi pagar setinggi 1 meter dengan gapura yang dihiasi ornament teratai tunjung dan simbol Cakra Majapahit. Masuk ke dalam area ini, kita akan menemukan sebuah pohon bersarung kain hitam putih yang dibawahnya terdapat tiga sumur. Ketiga sumur inilah yang disebut sebagai Sumur Windu.
Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang
Namun, dari ketiga sumur ini, hanya dua sumur yang diberi ornamen rumah joglo kecil atau cungkup yang di sebelahnya terdapat payung susun tiga berwarna hijau. Sementara sumur satunya, terdapat sebuah batu andesit di dampingi tiang bendera merah putih.
Sumur Windu di Situs Ken Dedes, Polowijen, Malang
Diantara ketiga sumur dan pohon ini terdapat sebuah altar dengan keramik berwarna putih seluas 2 x 1 meter. Disamping sumur ketiga, terdapat “watu kenong” atau batu berbentuk alat music jaman dulu. Konon, batu ini adalah alat musik yang dikutuk oleh Joko Lola sehingga menjadi batu.
Watu Kenong, alat musik yang dikutuk menjadi batu di Situs Ken Dedes
Itulah, isi dari Situs Ken Dedes yang berada di desa Polowijen, Blimbing, Malang. Lokasinya dekat dengan Kampung Budaya Polowijen dan pemakaman umum, diantara hamparan sawah, ladang dan pemakaman yang disebut Petilasan Ken Dedes.
Penduduk Polowijen menyebut Situs Ken Dedes ini sebagai “Sumur Windu Abad XI” artinya sumur yang sangat dalam tak berujung dan dibuat pada abad XI. Situs ini juga disebut sebagai “Sendang Dedes” yang dibangun oleh warga Panawijen dan diresmikan pada tanggal 20 Juni 2002.
Jika di gerbang masuk sebelah utara Kota Malang dibangun Taman Ken Dedes dengan patung Prajna Paramitha, maka di desa Polowijen inilah sosok Ken Dedes lahir dan tumbuh besar sebagai gadis putri Mpu Purwa.
Dan, keberadaan Situs Ken Dedes ini, menjadi jejak sejarah yang menjadi kenangan tragedi cinta pertama sang Ratu SIngosari ini. Melalui dongeng yang dituturkan oleh Ki Demang, pendiri Kampung Budaya Polowijen, kami diajak untuk mengenang kembali kisah cinta putri Ken Dedes dengan pemuda dari dukuh Karuman, Dinoyo yang bernama Joko Lola.
Kisah tragedi cinta pertama Ken Dedes ini terjadi sebelum ia menjalani perkawinan pertama yang dilakukan secara paksa dengan Akuwu Tumapel yaitu Tunggul Ametung. Dan, kisah ini menjadi dongeng yang dituturkan dan dipahami oleh warga desa Polowijen dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pernikahan “wurung” atau pernikahan yang gagal.
Dalam dongeng ini juga terdapat kisah tentang asal muasal “watu kenong”, yaitu sebuah artefak berbentuk menyerupai waditra kenong dari batu andesit, yang berapa lama berada di halaman depan rumah warga pada tepi jalan desa di wilayah Kelurahan Polowijen.
Ilustrasi Mpu Purwa (Diorama Museum Mpu Purwa)
Pada masa itu, Ken Dedes tinggal bersama kedua orangtuanya dengan tenang dan damai di desa Panawijen. Ken Dedes tumbuh dewasa sebagai seorang gadis yang memiliki kecantikan luar biasa. Tidak hanya kecantikan lahiriah saja namun budi pekerti serta tingkah lakunya juga baik mengingat ayahnya, Mpu Purwa, adalah seorang Pendeta Agama Budha yang disegani.
Seperti halnya bunga yang sedang mekar, maka harum wangi bunga itu menyebar kemana-mana terbawa angin. Begitu pula dengan cerita kecantikan Ken Dedes. Bunga desa Panawijen ini menjadi buah bibir di kalangan pemuda dari berbagai daerah.
Ilustrasi Ken Dedes (boombastis.com)
Namun, tidak mudah untuk mendapatkan cinta dari gadis putri Mpu Purwa ini. Sehingga banyak pemuda yang harus patah hati karena pinangannya ditolak.
Meskipun pada akhirnya harus menerima nasib pahit, Joko Lola, seorang pemuda dari dukuh Karuman yang berada dalam wilayah Dinoyo, lebih beruntung karena sempat memikat hati gadis berparas ayu ini. Keinginannya untuk mempersunting Ken Dedes diterima oleh Mpu Purwa sehingga Joko dari Karuman ini membawa pengiringnya untuk melamar.
Namun, ketika Joko Lola beserta pengiringnya telah tiba di Polowijen lengkap dengan uborampe pernikahannya, termasuk seperangkat alat musik pengiring. Mendadak, keluarga Ken Dedes mengajukan syarat yang tidak mudah dipenuhi. Pernikahan baru dapat dilangsungkan apabila Joko Lola dapat membuatkan sendang atau sumur windu dalam waktu hanya semalam.
Satu syarat yang sulit mengingat bahwa tanah di Desa Polowijen terbilang dalam dan susah mengeluarkan air sehingga permintaan tersebut sangat sulit diwujudkan. Apalagi hanya dalam waktu semalam saja.
Akan tetapi, karena rasa cintanya dan keinginannya untuk mempersunting bunga Panawijen ini begitu kuat sehingga syarat yang sangat sulit ini disanggupinya. Dengan kesaktiannya, pada pagi dini hari sebelum matahari terbit, sebuah sendang yang cukup besar dan dalam telah tergali dan mulai mengeluarkan air.
Namun, keberhasilan itu malah membuat cemas pihak Ken Dedes. Maka, keluarga Ken Dedes membuat “siasat penggagalan”‘. Sebelum sendang tersebut selesai, keluarga Ken Dedes segera membunyikan lesung bertalu-talu, seperti orang yang sedang bekerja menumbuk padi. Hal ini menjadi satu pertanda yang menunjukkan jika hari sudah mulai pagi.
Tentu saja, kejadian ini membuat Joko Lola terkejut sementara pekerjaannya belum sepenuhnya selesai. Dan, keluarga Ken Dedes memutuskan Joko Lola gagal memenuhi persyaratan yang diajukan sehingga pernikahan mereka digagalkan.
Meskipun Joko Lola berpendapat jika hari belum memasuki pagi, dan kegiatan menumbuk beras dilakukan terlampau dini. Tetapi, pihak keluarga Dedes bersikeras memutuskan dan menghakimi bahwa Joko Lola telah gagal membuat sendang dalam tempo semalam, dan sebagai konsekwensinya rencana pernikahannya digagalkan atau “wurung”.
Joko Lola marah. Ia merasa telah diakali atau disiasati sehingga rencana pernikahannya menjadi gagal. Dan, ia merasa sangat malu, karena iring-ringan pengantin dari Dinoyo menuju Poliwijen telah tiba di lokasi pernikahan, bahkan telah datang sejak sehari sebelumnya.
Maka, dengan kesaktiannya ditambah dengan amarahnya yang memuncak, salah satu alat musik pengiring berupa kenong ditendangnya dan dikutuk menjadi batu. Batu itulah yang dinamakan sebagai “watu kenong”.
Ken Dedes pun merasa malu sehingga ia berlari lalu terjun ke dalam salah satu sumur windu buatan Joko Lola. Sementara Joko Lola sendiri merasa malu dan telah kehilangan gadis yang sangat dicintainya sehingga ia memilih moksha atau meninggal dengan membawa serta raga atau badannya.
Tempat dimana Joko Lola mokhsa hingga sekarang masih ada dan diabadikan oleh warga Polowijen berupa tempat tetirah dengan pohon besar yang diberi sarung hitam putih. Letaknya diantara makam yang ada di pemakaman muslim Polowijen yang berada tidak terlalu jauh dari Situs Ken Dedes.
Tempat Mokhsa Joko Lola di Pemakaman Muslim Polowijen
Kegagalan pernikahan Ken Dedes dan Joko Lola berdampak pula pada masyarakat kedua daerah ini. Sehingga hubungan baik antara warga Polowijen dan Dinoyo menjadi ternoda. Bahkan, keluar pantangan atau “ilo-ilo” yang menganjurkan agar warga Dinoyo tidak menikah dengan warga Polowijen yang disebut dengan istilah “Satru Danyang.”
Siapakah Joko Lola itu?
Menurut dongeng diatas yang dituturkan oleh Isa Wahyudi yang akrab dipanggil Ki Demang di Kampung Budaya Polowijen, nama Joko Lola tidak terdapat dalam naskah Pararato maupun Nagarakretagama. Nama ini sebenarnya sebutan masyarakat Polowijen bagi Ken Angrok atau Ken Arok.
Dalam serat Paraton, Ken Arok adalah anak hubungan gelap antara Ken Endok dengan Bathara Brahma, seorang Dewa dalam ajaran Hindu yang bersifat gaib atau seorang berpengaruh yang tidak mau diketahui identitasnya. Kemudian, setelah bayi itu lahir, Ken Endok membuangnya ke tengah kuburan lalu ditemukan oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Semenjak itu, Ken Angrok pindah dari ayah angkat satu ke ayah angkat lainnya hingga menjadi anak angkat Bango Samparan yang tinggal di dukuh Karuman. Dan, Ken Angrok sering melakukan pengembaraan atau perjalanan seorang diri.
Maka, sebutan Joko Lola yang berasal dari kata “joko” atau pemuda dan “lola” berarti pemuda tanpa ayah dan ibu atau pemuda “kabur kanginan” merupakan sebutan yang tepat bagi Ken Angrok.
Menurut Suwardono, Sejarawan Malang, keburukan Joko Lola bukanlah pada rupa atau wajahnya, namun lebih cenderung pada perilakunya. Karena, pada saat menjadi anak angkat Bango Samparan di dukuh Karuman, kenakalan Ken Angrok semakin bertambah parah.
Jika sosok Ken Dedes yang terkenal memiliki kecantikan luar biasa ini mau menaruh hati pada Joko Lola, maka dapat dibayangkan bagaimana penampilan sosok misterius ini. Tentunya, tampan dan gagah serta flamboyant.
Patung Ken Arok di GOR Ken Arok Malang (boombastis.com)
Suwardono mengatakan, “Ketika Ken Angrok dewasa, dia dikenal bukan sebagai pemuda dari Pangkur, tempat lahirnya, tetapi pemuda dari Karuman.”
Sementara, penduduk Polowijen lebih mengingat Dinoyo dibandingkan dengan Karuman. Karena Dinoyo adalah kota pemerintahan yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Kanjuruhan. Bahkan, Dinoyo masih dikenal hingga masa Mpu Sindok sebagai daerah kekuasaan Rakryan Kanuruhan.
Apakah Ken Dedes Tidak Mencintai Ken Angrok atau Joko Lola?
Boleh dikatakan, apabila Ken Arok adalah cinta pertama Ken Dedes sebelum ia dibawa lari oleh Tunggul Ametung. Dongeng diatas merupakan satu kiasan, jika Ken Dedes menghendaki Joko Lola atau Ken Angrok untuk merubah perbuatan dan perilakunya yang buruk terlebih dahulu sebelum menikahinya.
Dan, syarat yang sulit dan “strategi penggagalan” merupakan upaya menguji kesungguhan Joko Lola dalam memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya. Ken Dedes menolak menikah dengan Joko Lola atau Ken Angrok karena mengetahui jika pemuda Karuman ini masih belum berubah. Masih suka merampok, menggoda gadis-gadis, berjudi dan lain sebagainya.
Lalu, bagaimana dengan sumur Windu?
Sumur Windu dikatakan sebagai sumur yang dalam dan tak berujung. Menurut penafsiran penulis adalah jangka waktu yang ditetapkan Ken Dedes kepada Joko Lola untuk merubah perangai dan perbuatannya yang buruk. Tidak terbatas asalkan mau berubah.
Ken Dedes dibawa lari Tunggul Ametung (Diorama Museum Mpu Purwa)
Namun sayang, sebelum Joko Lola menunjukkan perubahan dalam dirinya, Ken Dedes sudah dibawa lari terlebih dahulu oleh Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Maka, harapan untuk bersama dan merajut cinta mereka kembali, harus melalui jalan yang lebih sulit.
Apabila Ken Dedes tidak mencintai Ken Angrok sebelumnya, maka tidak semudah itu Ken Dedes langsung jatuh cinta dan mau menerima cinta dari orang yang baru dikenalnya. Bahkan, orang yang telah membunuh suaminya. Alasan yang masuk akal apabila Ken Dedes sudah mengenal Angrok jauh sebelum dia dilarikan oleh Tunggul Ametung.
Begitu pula dengan Ken Angrok, alih-alih pertama kali melihat di Taman Baboji seperti versi Pararaton, justru sejak di Panawijen dia sudah menyadari kecantikan dan kelebihan Ken Dedes.
Ketika pada akhirnya Ken Dedes dilarikan oleh Tunggul Ametung, Mpu Purwa, dalam kutuknya seperti sudah tahu akan ada balasan setimpal bagi orang yang telah melarikan putrinya. Joko Lola, yang menurut Suwardono adalah Ken Angrok itu, pasti tidak akan tinggal diam melihat perempuan yang dia cintai dibawa lari. Sehingga Tunggul Ametung akan dibunuh dan Putri Dedes akan direbut kembali.
Video Taman Ken Dedes
Kesimpulan
Ken Dedes sang Ratu Singosari, tercatat dalam sejarah memiliki perjalanan cinta yang penuh dengan tragedi. Dan, dongeng lisan yang dituturkan warga Polowijen ini merupakan penegas jika sosok Ken Dedes adalah sosok wanita yang memiliki kesetiaan akan cinta pertamanya.
Meskipun harus menderita terlebih dahulu ketika dibawa paksa oleh Tunggul Ametung yang kemudian menikahinya. Akhirnya, Ken Dedes menemukan kembali cinta pertamanya dengan Joko Lola atau Ken Angrok walau harus melewati intrik dan strategi.
Seperti terdapat dalam Kisah Ramayana, akhirnya Dewi Sinta kembali ke dalam pelukan sang Rama setelah diculik oleh Rahwana. Dalam kepercayaan Hindu, jika Ken Angrok dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu maka Ken Dedes adalah titisan dari Dewi Laksmi atau Dewi Sri, kekasih Wisnu.
Dan, Situs Ken Dedes ini merupakan jejak sejarah tragedi cinta pertama Ratu Singosari.