Menikmati Keindahan Menara Siger, Kebanggaan Masyarakat Lampung – Saat menyeberang dari pelabuhan Merak menuju Bakauheuni, saat mau berlabuh kita akan melihat sebuah menara yang menggunakan mahkota berwarna kuning keemasan. Itulah, Menara Siger. Menara kebanggaan masyarakat Lampung, Sumatera Selatan.
Ulasan wisata ayodolen kali ini adalah tentang Menara Siger, Lampung dengan narasumber Susilowati yang melakukan perjalanan wisata bersama keluarganya. Kebetulan sang suami adalah putra Lampung asli, sehingga perjalanan keluarga ini merupakan satu perjalanan pulang kampung.
Pada kesempatan pulang kampung ini, Susi bersama suami dan putrinya, menyempatkan diri mengunjungi Menara Siger sebelum melanjutkan perjalanan ke lereng Gunung Tanggamus dimana kampung halamannya menanti.
Bagi masyarakat Lampung, Menara Siger adalah menara kebanggaan mereka. Namun, masyarakat diluar Lampung, jarang yang mengetahui keberadaan, sejarah dan makna filosofi dari menara berwarna kunining keemasan tersebut.
Untuk itu mari kita ikuti ulasan ayodolen berikut ini.
Baca Juga : Jalan-jalan Ke Tanggamus : Tangga Menuju Surga
Tentang Menara Siger
Asal-usul Mahkota Siger
Berbeda daerah berbeda pula ada istiadatnya. Apabila di pulau Bali, pada umumnya setiap rumah atau gedung perkantoran dihiasi dengan gapura. Maka, di Lampung, setiap bangunan publik akan dihiasai dengan Mahkota Siger.
![]() |
| Mahkota Siger pada pengantin wanita Lampung |
Sehingga muncul pertanyaan, apakah Mahkota Siger dan apa kedudukannya dalam kehidupan masyarakat Lampung?
Mahkota yang dikenakan oleh setiap pengantin perempuan di Lampung itulah yang disebut Mahkota Siger dengan jumlah tanduk atau pucuk kecil sebanyak 7 buah. Konon, ketujuh pucuk mahkota tersebut menjadi symbol dari tujuh gunung di Lampung yang menjadi asal usul leluhur atau nenek moyang masyarakat Lampung.
![]() |
| Andini di depan Menara Siger |
Dari ketujuh gunung tersebut, menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat Lampung, salah satunya masyarakat dari Gunung Tanggamus, Lampung.
Versi lain mengatakan jika asal-usul Mahkota Siger dikaitkan dengan Balaputra Dewa, Raja Sekala yang disebut Selopun yaitu sebuah daerah di Lampung yang menjadi rumah situs Batu Brak bekas pemukiman dari batu.
Dalam prasasti Nalanda, Balaputra Dewa adalah keturunan wangsa Sanjaya, jaman Mataram Kuno yang berkuasa di Jawa. Para Sejarawan sepakat jika Balaputra Dewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya.
Dalam kaitannya dengan Mahkota Siger, Balaputra Dewa membuat siger sebagai miniatur Borobudur untuk istrinya Pramodya Wardhani, putri Samaratungga. Meskipun kepastian tentang Siger ini belum tentu terkait dengan mahkota Kerajaan Sekala yang dipakai Pramodya Wardani istri sang raja tetapi hikayat dan refleksinya sungguh luar biasa.
Apapun versi cerita tentang Mahkota Siger ini, masyarakat Lampung menjadikannya sebagai satu kebanggaan yang diletakkan pada bangunan public di setiap sudut kota.
Filosofi Siger
Dalam sejarah masyarakat Lampung yang terkenal sebagai penghasil lada hitam, Siger adalah simbol kedudukan sekaligus visi masyarakatnya dan Siger tidak merepresentasikan sistem kekeluargaan masyarakat Lampung karena bukan matrilineal tetapi patrilineal.
Simbol Siger lebih bersifat feminin dengan merujuk sifat seorang wanita yang lemah lembut dan luwes sehingga wanita dengan Mahkota Siger lebih diutamakan dalam memimpin masyarakat dan bergaul dengan tetamu.
Dengan mengedepankan rasa sayang, saling menghormati, mengayomi, dan mendidik adalah nilai-nilai dari feminisme yang direfleksikan dalam kehidupan masyarakat Lampung. Sehingga untuk menyambut para tamunya, masyarakat Lampung menggunakan Menara Siger yang berdiri megah di bukit Bakauheuni.
Menara Siger Sebagai Titik Nol Jalur Lintas Sumatera
Dari kapal ferry yang akan berlabuh di bumi lada hitam, di pelabuhan Bakauheuni, kita akan melihat Menara Siger yang berdiri megah memancarkan sinar keemasan.
![]() |
| Menara Siger dari kejauhan |
Menara Siger juga mendapat predikat sebagai titik nol jalur perjalanan lintas Sumatera. Sesuai dengan kenyataannya, jalur lintas Sumatera atau Trans Sumatera memang berakhir atau berawal tepat di bawah kaki bukit Bakauheuni di mana monumen ini menerawang jauh ke cakrawala Selat Sunda dan bumi Lampung dari atasnya.
Isi Menara Siger
Di puncak tanduk bagian tengah Menara Siger, terdapat payung berundak tiga berwarna putih, kuning, dan merah yang melambangkan tatanan kemasyarakatan Lampung. Di dalam bangunan yang menopang mahkota raksasa ini, terdapat prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan masyarakat Lampung.
![]() |
| Susi dan Suami bersama ptaung kayu di dalam Menara Siger |
Pembangunan Menara Siger
Menurut Arsip Indonesai.Travel, Menara Siger digagas oleh Gubernur Lampung pada waktu itu yaitu Sjachroedin ZP, dengan bantuan seorang arsitek, Ir Anshori Djausal MT. Sehingga berdirilah Bangunan dengan bentuk siger berwarna kuning keemasan yang menjulang tinggi sekitar 32 meter di atas bukit gamping dan menjulang 110 di atas permukaan laut.
![]() |
| Andini bersama Ayahnya di Menara Siger |
Sedangkan dana pembangunan proyek ini dikatakan sekitar Rp 7 miliar, walau informasi lain menyebutkan Rp 15 miliar. Dengan menggunakan sistem ferrocement, Menara Siger ini dipercaya akan tahan terhadap terpaan angin dan guncangan gempa.
Untuk mengurangi beban, pembangunan Mahkota Siger ini tidak menggunakan semen curah cor, namun dengan jaringan kawat menyerupai jaring laba-laba yang akan tetap kuat sebagai struktur bangunan.
Penutup
Itulah ulasan tentang Menara Siger yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, Sumatera Selatan berdasarkan perjalanan wisata Susilowati bersama keluarga saat menikmati keindahannya disela-sela perjalanan pulang kampung ke lereng gunung Tanggamus.
Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kita tentang salah satu objek wisata yang berada di titik nol perjalanan lintas Sumatera ini.
Semoga bermanfaat..
Baca Juga Perjalanan Susilowati Lainnya :
Baca Juga Perjalanan Susilowati Lainnya :









Menara Siger merupakan tempat yang indah yang perlu dipertahankan keberadaan dan kelestariannya.
BalasHapus